Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

kakek bodoh memindahkan gunung (cerita dari tiongkok)






Teman-teman yang luar biasa, berikut ini adalah cerita legenda dari Tiongkok kuno.
Alkisah, di sebuah desa terpencil, tinggallah seorang kakek bersama dengan keluarga besarnya. Desa tempat mereka tinggal itu terletak di antara dua gunung besar. Bila keluarga sang kakek itu hendak pergi ke desa lain, mereka harus berjalan kaki berhari-hari lamanya memutari gunung. Tentu itu sangat melelahkan dan menyita banyak waktu.
Suatu saat, sang kakek tua dengan pemikirannya yang lugu dan sederhana mengemukakan tekadnya. Ia mengajak segenap keluarganya untuk bahu-membahu memindahkan gunung. Pada hari yang telah ditentukan, keluarga sang kakek pun mulai menggali tanah lereng gunung. Hari demi hari dipenuhi dengan bekerja menggali-menggali dan menggali lereng gunung. Melihat kesibukan tersebut, beberapa hari kemudian para tetangga berdatangan. Salah seorang pemuda begitu penasaran dan bertanya pada si kakek.
"Kakek dan seluruh keluarga besar setiap hari terlihat begitu sibuk! Dari pagi sampai sore, menggali lereng gunung. Sebenarnya, apa maksud dan tujuan kakek?"
Si kakek menghentikan kerjanya. "Kami menggali untuk memindahkan gunung ini, Nak," jawabnya mantap.
"Hah, memindahkan gunung?? Mana mungkin, Kek?!" tanya si pemuda tidak percaya.
"Gunung sebesar itu kok mau dipindahkan," lanjutnya. "Kakek kan sudah tua. Saya yakin, sebelum gunung bisa dipindahkan, kakek pasti sudah meninggal lebih dulu. Dengan begitu, bukankah kakek mengerjakan sesuatu yang sia-sia belaka?"
Si kakek menjawab dengan lantang, "Kakek memang sudah tua. Tapi bila kakek meninggal, ada anak-anak yang meneruskan, ada cucu-cucu yang akan menggantikan, begitu seterusnya... Selama kami punya tekad, mau bekerja keras, penuh kesungguhan hati, dan konsisten, kakek yakin suatu hari kelak, gunung ini pasti bisa dipindahkan. Dan jalan kehidupan kita semua akan lebih mudah!"

Tekad si kakek dan keluarganya yang begitu kuat, menggoyahkan hati masyarakat sekitar situ. Maka, mereka pun berbondong-bondong bergantian, dengan peralatan yang seadanya, bahu membahu mulai ikut bersama-sama bekerja menggali lereng gunung itu.
Singkat cerita, hati para dewa di khayangan pun akhirnya tergerak ketika melihat tekad si kakek dan semangat warga desa. Kemudian, mereka sepakat membantu sang kakek untuk memindahkan gunung itu. Dan haaap, tangan para dewa sibuk melambai bekerja sama. Dalam sekejap, terjadilah keajaiban! Gunung pun berpindah tempat dan jalan terbentang luas menuju kemana pun masyarakat desa itu hendak pergi.
Netter yang luar biasa,
Di Tiongkok, kisah legenda ini terkenal dengan sebutan "Kisah si Kakek Bodoh Memindahkan Gunung."

Walau cerita itu hanya sekadar legenda, namun pesan moral tentang kekuatan tekad dan kesungguhan hati ini sungguh luar biasa!! Kita tahu, kemajuan peradaban manusia tidak akan seperti sekarang, jika dunia ini tidak dihuni oleh manusia-manusia yang memiliki tekad seperti kakek tua tadi. Saat ini, tak terhitung jumlah penemuan baru dan teknologi modern sebagai karya-karya spektakuler dari manusia-manusia bertekad baja. Sulit dibayangkan, apa jadinya dunia ini jika tidak ada manusia-manusia yang memiliki cita-cita besar, tekad membaja, konsistensi, dan persistensi yang luar biasa.
Legenda di atas mengajarkan kepada kita, bahwa kemajuan pribadi-pribadi, kemajuan masyarakat, dan kemajuan sebuah bangsa sangat dipengaruhi oleh kekuatan tekad. Tekad merupakan sumber motivasi yang menggerakkan manusia menuju cita-citanya. Tekad merupakan kekayaan sekaligus modal bagi kemajuan dan kemakmuran. Bagi mereka yang memiliki tekad yang sangat kuat, tidak ada yang mustahil di dunia ini. Nothing is impossible under the sun.
Selama memiliki tekad, kesungguhan hati, keyakinan dan konsistensi, kita akan mampu mewujudkan apa yang kita cita-citakan.

Miliki tekad dan ciptakan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin!
Salam sukses, LUAR BIASA!

kisah buku ajaib (china story)




Dahulu kala, ada sebuah desa yang bernama “Desa bodoh”, kenapa desa ini dinamakan desa bodoh? Karena penduduk yang tinggal didesa ini sangat bodoh, karena terlalu bodoh untuk menghitung 1 + 1  = 2 saja mereka tidak bisa. Mereka selalu menjadi bahan tertawaan penduduk desa lain, sehingga penduduk desa bodoh menjadi minder tidak berani keluar dari desa mereka untuk bertemu dengan orang lain.
Tetapi di desa bodoh ini terdapat seorang yang sangat pintar bernama cendekiawan, dia bisa menjawab semua pertanyaan penduduk desa bodoh ini. Penduduk desa sangat menghargai cendekiawan, setiap ada masalah yang berhubungan dengan dunia luar penduduk desa selalu meminta pendapatnya. Tetapi dia sangat sombong dan sangat malas. Dia selalu memerintah penduduk desa bodoh mengerjakan pekerjaannya, makanan dan minumannya juga disediakan oleh penduduk desa bodoh ini. Tetapi penduduk desa bodoh ini sangat baik, mereka tidak menganggap cendekiawan memperalat mereka, mereka selalu berpikir “sungguh bahagia! Dapat membantu orang lain!”
Kenapa cendekiawan di desa bodoh ini bisa sangat pintar? Semua ini ada sebabnya, rupanya cendekiawan adalah seorang utusan dari penduduk “Desa Pintar” untuk mencari buku ajaib. Karena mereka mendapat kabar bahwa di desa bodoh terdapat sebuah buku ajaib. Didalam buku ini berisi sangat banyak pengetahuan, setiap orang yang membaca buku ini akan mendapat kepintaran yang tak terduga. Buku tersebut adalah peninggalan dewa pelindung desa bodoh untuk penduduk desa bodoh. Tetapi penduduk desa sangat bodoh sehingga mereka tidak mengetahui peninggalan ini. Sebuah buku yang begitu ajaib dibiarkan disana sungguh mubazir! Seharusnya buku ini diberikan kepada penduduk desa pintar. Dengan demikian dapat membuat buku ajaibnya menjadi lebih berharga! Sehingga mereka mengutus cendekiawan untuk datang ke desa bodoh mencari buku ajaib ini supaya dapat  dibawa pulang ke desa pintar.
Tidak berapa lama setelah cendekiawan datang ke desa bodoh dia sudah mengetahui bagaimana mendapatkan buku ajaib tersebut. Rupanya cara menemukan buku ajaib ini sangat gampang yaitu pergi ke tepi danau dekat pengunungan, menghadap ke danau dan berteriak “Buku ajaib! Buku ajaib! Cepat keluar!” maka buku ajaib akan muncul kepermukaan danau. Dengan mencuri-curi setiap malam Cendekiawan datang ke tepi danau membaca buku ajaib ini. Sudah pasti dia tidak bermaksud membawa pulang buku ajaib ini ke desa pintar. Jika setiap orang didesa pintar sudah membaca buku ajaib ini, maka dia bukan merupakan seorang yang paling pintar lagi demikianlah dia berpikir. Sehingga dia membohongi orang didesa pintar bahwa dia tidak dapat menemukan buku ajaib. Sedangkan dirinya sendiri tinggal didesa bodoh tidak bermaksud pulang kembali ke desa pintar lagi.
Pada suatu malam, cendekiawan dengan mencuri-curi berjalan pergi ke tepi danau. Bersamaan, tetangganya Si Tolol keluar dari rumah hendak ke belakang, dia melihat cendekiawan malam-malam sendirian berjalan ke tepi danau, dan Si Tolol sangat khawatir dan berkata kepada dirinya sendiri, “Sudah tengah malam cendekiawan hendak pergi kemana? Bagaimana jika digigit ular? Tidak boleh kubiarkan cendekiawan sendiri berjalan ke tepi danau, sangat berbahaya. Saya akan mengikutinya.”
Si Tolol mengikuti dia terus sampai ditepi danau dekat pengunungan, dia tidak berani terlalu dekat dengan cendekiawan karena dia takut akan membuat cendekiawan terkejut. Sehingga dia  hanya dibelakang cendekiawan mengikutinya dan dia bermaksud melindungi cendekiawan jika terjadi sesuatu. Setelah sampai di tepi danau dia mendengar cendekiawan berkata “Buku ajaib! Buku ajaib! Keluarlah!” diatas danau muncullah sebuah benda. Si Tolol berpikir cendekiawan tentu kelaparan, saya sendiri juga kelaparan sebentar lagi saya juga pergi meminta makanan. Rupanya Si Tolol sama sekali tidak mengerti apa itu buku ajaib. Dia berpikir didalam buku ajaib berisi makanan lezat. Cendekiawan sangat lama masih belum meninggalkan tempat ini, sehingga Si Tolol menunggu-nunggu sampai ketiduran.
Begitu Si Tolol terbangun, dia melihat cendekiawan telah meninggalkan tempat itu. Dan dia berkata, “sekarang giliran saya yang makan!” dan dia sambil berlutut ditepi danau dia berteriak “Buku ajaib! Buku ajaib! Keluarlah!” akhirnya muncullah sebuah benda yang berat dari dasar danau. Begitu Si Tolol membukanya dia melihat sebuah buku yang bersinar–sinar muncul dihadapannya. Si Tolol yang sama sekali tidak pernah berlajar membaca dapat membaca setiap huruf di buku ajaib ini. Setiap huruf dari buku ajaib ini langsung masuk kedalam otaknya, Si Tolol merasa sangat bahagia. Dia terus menerus membuka setiap lembar buku ajaib, dengan tiba-tiba dia merasa dia menjadi sangat pintar dan mengerti semua makna yang terdapat dibuku ajaib ini. Pikirannya menjadi jernih dan bersemangat, dia merasa buku ini sangat bagus dan ajaib, dia berpikir, “saya harus memberitahukan seluruh penduduk desa.” Begitu dia selesai membaca buku ini hari telah terang, dia lari pulang kedesa dan memberitahukan kepada seluruh penduduk desa untuk datang ke tepi danau membaca buku ajaib ini.
Cendekiawan sedang tidur mendengar suara ribut-ribut diluar, dalam hatinya dia memaki, “benar-benar sekumpulan manusia tolol berbuat hal yang tolol” lalu dia tidur kembali tanpa memperdulikan mereka.
Seluruh penduduk desa bodoh berkumpul ditepi danau, lalu Si Tolol berkata,“buku ajaib! Buku ajaib! Keluarlah!” didepan semua orang buku ajaib muncul. Begitu Si Tolol membuka buku tersebut secara ajaib huruf dibuku tersebut berubah menjadi besar sehingga seluruh penduduk dapat membaca dengan jelas, sambil membaca air mata mereka terus mengalir mereka berkata “rupanya begitu banyak hal yang kami tidak tahu ! rupanya buku ini mempunyai sebuah keajaiban yaitu orang yang hatinya tulus dan baik dapat mengetahui lebih banyak isi buku tersebut, sehingga setiap orang yang membaca buku ini mempunyai pengertian yang berbeda-beda sesuai dengan kebaikan hatinya, makin baik hatinya dia akan mengetahui lebih banyak makna yang terkandung dalam buku tersebut, orang yang seperti cendekiawan yang egois hanya mengerti sedikit  permukaan tanpa memahami makna sebenarnya yang terkandung dalam isi buku, hanya bisa menjadi sedikit lebih “pintar”, tanpa mendapatkan “kecerdasan” yang sebenarnya.
Penduduk desa kembali ke desa dengan hati yang puas, mereka tidak tamak, dan berjanji mereka bersama-sama setiap pagi akan datang ke tepi danau membaca buku ajaib. Lama kelamaan cendekiawan menyadari bahwa penduduk desa makin lama makin pintar, itu yang paling ditakutinya. Karena jika mereka semua berubah menjadi pintar dia sendiri sudah tidak berharga lagi di desa ini. Dengan hati geram dia lalu bertanya kepada Si Tolol, “kenapa penduduk desa sekarang tidak sama lagi?” rupanya selama ini dia tidak pernah bertanya suatu pertanyaanpun kepada orang lain, Si Tolol menjawab, “ini semua adalah berkat jasa kamu, sehingga penduduk desa menjadi pintar.” Lalu Si Tolol menceritakan asal mula penduduk desa menemukan buku ajaib, mendengar cerita Si Tolol muka cendekiawan langsung berubah menjadi pucat dalam hatinya berpikir, “kenapa bisa begitu? Kenapa bisa begitu?” Dia semakin menyadari sekarang penduduk desa sekarang sudah tidak memerlukan dia lagi, mereka dapat sendiri untuk berkomunikasi dengan penduduk desa lain.
Sudah pasti, cendekiawan tidak dapat menerima hal yang demikian, oleh karena itu timbul niat jahatnya. Pada malam hari dengam mencuri-curi dia pergi ketepi danau, setelah buku ajaib muncul dia memasukan buku ajaib didalam sebuah kalung, lalu dengan tergesa-gesa keluar dari desa bodoh. Begitu keluar dari desa bodoh dia berpikir, “sekarang penduduk desa bodoh sudah tidak memerlukan saya lagi, saya akan kembali ke desa pintar membawa buku ajaib supaya mereka bangga dengan saya.”
Setelah sampai di desa pintar, seluruh penduduk desa berebut untuk melihat buku ajaib, setelah keadaan agak tenang, cendekiawan lalu membuka buku ajaib. Tetapi begitu buku ajaib terbuka didalamnya kosong tidak ada huruf sama sekali, rupanya begitu buku ajaib keluar dari desa bodoh dia akan menjadi tidak berguna lagi. Seluruh penduduk desa pintar merasa dibohongi lalu mengusir cendekiawan dari desa pintar.
Cendekiawan dengan lesu memeluk buku ajaib dalam hati berkata, “buku ini sudah tidak berguna lagi bagi saya, sebaiknya saya kembalikan kepada penduduk desa bodoh!” Pada dasarnya cendekiawan mempunyai sebuah hati yang baik, tetapi karena  pendidikan dan masa pertumbuhannya didesa pintar yang penduduknya bersifat egois dan licik sehingga merubah sifat dasarnya menjadi jelek. Sekarang dia rindu kepada penduduk desa bodoh yang baik hati, apakah mereka akan memaafkannya?
Begitu dia sampai di desa bodoh, penduduk desa dengan gembira menyambutnya, rupanya mereka sibuk mencari dia. Lalu cendekiawan memberitahukan kepada mereka dia telah mencuri buku ajaib, tetapi penduduk desa memaafkannya, mereka berkata cendekiawan dapat dengan selamat kembali ke desa, mereka sudah merasa gembira. Melihat kebaikan penduduk desa bodoh cendekiawan sampai terharu menetes air mata, dalam hati berjanji akan berbuat lebih banyak kebaikan untuk penduduk desa ini.
Setiap hari semua penduduk desa beramai-ramai datang ketepi danau membaca buku ajaib, lama kelamaan seluruh penduduk desa menjadi pintar semua sehingga nama desa bodoh tidak ada lagi dan muncul sebuah desa baru yang bernama “desa cerdas.”

MAMA dan DIRIKU



MAMA DAN DIRIKU

Haruskah aku salahkan mama atas keadaan ini? Memang sebenarnya tidak pantas mengeluh berlebihan. Aku tidak cacat anggota tubuhhku lengkap, IQ normal, serta bertindak yang sama dengan kawan – kawanku yang lain. Satu saja yang tiada henti kusesali yakni keadaan fisikku yang buruk. Hidung pesek, bola mata melotot, dan badan gendut. Mengapa aku dilahirkan seperti ini?
Aku terhenyak ingin marah, tapi aku tak tahu harus berbuat apa ketika kawan – kawanku mengejekku. Bagaimanapun aku hanyalah seorang gadis kecil yang belum pandai mengungkapkan perasaan. Seperti umumnya anak kecil, aku tidak suka dipermalukan, namun bibirku terkatup rapat.
Aku tumbuh menjadi gadis yang tertutup dan gampang curiga. Aku menyesal dan mengutuki nasib, kenapa harus hidup. Sering terlintas dalam pikiranku, mungkin lebih baik mama mencekikku saja waktu aku masih bayi dulu.
Pada usiaku yang ke tujuh belas ini, meskipun aku jarang bergaul, diam – diam aku merasa terpikat pada seorang kawan sekelas, Jack namanya. Aku sadar mustahil mengharapkan dia tertarik kepadaku. Menginginkan dia jadi pacar jelas merupakan mimpi yang tak kan pernah berujung sampai kapanpun.
Saat itu pulang sekolah, kebetulan dia masih membenahi buku – bukunya sedangkan kawan yang lainnya sudah meninggalkan kelas.
“ Jack, boleh saya bicara sebentar?” tanyaku dalam hati berdebar.
“ Ya, ada apa?”jawabnya dengan kaget, karena tak biasanya aku mengajaknya bicara.
“ Aku ……e……aku……..e…….aku minta bantuanmu untuk mengarangkan surat.”
“Surat? Maksudmu?”tanyanya heran.
“Aku tidak pandai mengarang, tapi aku ingin mengirim surat kepada seseorang. Maukah kamu merangkaikan kata – katanya?”kataku
Beberapa saat kemudian, Jack membuatkan surat yang kuminta, entah dengan perasaan apa. Dia nampak acuh tak acuh dan tergesa – gesa menyusun kalimat demi kalimat.
“ Begini?”tanyanya setelah selesai. Aku membaca secara cepat. Meskipun sederhana, dia telah menuangkan perasaanku dengan tepat.
“ Ya betul. Bawalah pulang.” Kataku menyerahkan kembali surat itu.
“ Maksudmu? Bukannya kamu yang harus menyalin untuk mengirimkan pada orang yang kamu tuju?”
“ Ya, mauku emang begitu, setelah aku pertimbangkan, keputusan orang yang kumaksud adalah kamu.”
“ Jangan ngaco!!! Kamu tidak berhak mempermainkanku seperti ini. Muak aku mendengarnya!” keluar kelas meninggalkan Rose.
Aku sakit, malu, tidak terima, dan marah. Dengan tangis tertahan aku pulang langsung mencari mama. Dia tengah duduk dikamar, didepan computer memeriksa pembukuan keluarga.
“ Ada apa?”tanyanya dengan dahi berkerut.
Sebelum aku bercerita, rupanya mama telah menangkap ekspresiku yang tidak beres. Memang, mama sepertinya selalu tahu kalau ada sesuatu hal menimpa diriku.
“ Benci, Rose benci!!!”
“ Ada apa? Tenang dong, Rose. Ayo bicara baik – baik pada mama.”
“ Katakan Ma………… mengapa Mama begitu cantik, sedang Rose jelek? Dimana letak keadilan? Adakah yang salah dari kenyataan ini, Ma?”
Mama terpana. Dia menegakkan duduknya dan menatap lekat – lekat tanpa sepatah katapun. Tiba – tiba bibirnya bergetar. Sepertinya Mama tidak menyangka Aku bakal mempersoalkan perbedaan fisik kami. Perlahan – lahan Ia mendekat, mencoba merengkuhku tapi kutolak. Aku ingin Mama merasa bersalah, tega telah melahirkanku dalam keadaan demikian.
“ Baiklah, Rose………..Mungkin sudah saatnya Mama harus menceritakan rahasia yang selama ini Mama simpan sendiri.”
“ Jadi benar Rose bukan anak Mama? Mama pungut dari keranjang sampah atau dari pinggir kali?!”
“ Jangan bicara begitu.” Ujar mama sambil meletakkan telunjuk kebibirku.
“ Kamu sungguh anak mama, darah daging mama, yang mama lahirkan, susui dan besarkan.”
“ Tapi mengapa perbedaan kita bagai bumi dan langit? Tak pantaskah Rose hidup seperti kawan – kawan lain? Punya teman, tidak diejek, tak dianggap sebagai makluk aneh. Katakana Ma………… Mengapa wajah kita sangat berbeda?”
“ Wajahmu sebenarnya tak jauh beda dari Mama. Kamulah gambaran Mama dimasa muda. Dulu Mama tak cantik, rambut, hidung, badan, mata ya semua mirip denganmu.”
“ Mama bohong!! Buktinya Mama cantik.”
“ Inilah rahasia itu, Rose. Mama menjalani operasi plastic wajah. Sejak saat itulah, semua terasa indah bersahabat. Mama yang dulu dipandang sebelah mata, berubah jadi gadis yang disukai banyak orang. Sampai akhirnya………” Mama menangis sangat memilukan. Aku diam, menunggunya melanjutkan kisah yang belum pernah kuketahui sebelumnya.
“ Mama menikah. Dua tahun kemudian kamu lahir. Sebagai anak yang kami idam – idamkan, seharusnya kehadiranmu membuat kami makin bersatu. Sayangnya, Papamu tidak percaya kamu anaknya. Berkali – kali Mama menjelaskan pada Papamu, bukannya menerima Ia justru makin marah. Ia merasa ditipu. Baginya jati diri Mama tidak ada lagi. Menurutnya, keberadaan Mama hanyalah sebuah kepalsuan. Akhirnya dia menceraikan Mama.”
Mama tak berkata – kata lagi. Seluruh rahasia yang menyakitkan itu terbuka sudah. Rasa nyeri menelusuk didada dan getir menymbat kerongkonganku. Kupeluk punggung Mama, kuurut – urut sebagai ungkapan penyesalan, saat dia rebahkan dirinya dikasur. Mama berguling menghadap wajahku.
“ Mama ……….maafkan ………….maafkan kesalahan Rose!”
“ Anakku, sadarilah bahwa kepribadian seseorang jauh lebih beharga dibandingkan kemolekan wajah. Kamu tidak perlu rendah diri, sebaliknya berusahalah menjadi pribadi yang menyenangkan. Meskipun tidak disanjung dan dipuja – puja, kamu pasti mendapat kawan jika tidak menutup diri.”
“ Mama………….. aku saying padamu.Maafkan aku!”
“ Satu lagi, biarpun kamu begitu jelek, percayalah bahwa kasih mama tetap tulus kepadamu. Tuhan juga mencintaimu. Dia tidak pernah menilai orang dari segi fisik, tapi bathinnya. Kalau dalam hidup ini kamu mampu menebarkan kasih, sesungguhnya hidupmu takkan sia – sia dimata tuhan atau sesama.”
Kami akhirnya berpelukan saling menguatkan hati. Kecemburuan pada kecantikan Mama kini sirna berganti rasa hormat dan cinta yang lembut serta menghangatkan nadi. Pikiran dan hatiku jernih kembali. Aku bertekad menerima keadaanku apa adanya, dan berusaha mempercantik yang memang bias kupercantik, yakni KEPRIBADIANKU!!!!

*** THE END ***


HAL – HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM CERPEN


Tokoh secara keseluruhan : Sifat :

1. Aku ( Rose ) Minder, mudah putus asa,baik hati, penyayang.
2. Mama Sabar, perhatian, bijaksana, penyayang.
3. Jack Egois, tidak bias menghargai perasaan orang lain, merasa paling hebat.

Tokoh yang perlu diteladani : Alasan :

Mama Mama tetap sabar dan bijaksana dalam menghadapi segala cobaan dan persoalan yang selalu membelitnya. Mama juga mampu membesarkan dan mendidik anaknya (Rose) dengan penuh kasih sayang dan perhatian, walaupun tanpa figure seorang suami.




Konflik :

Konflik batin : - Rose minder dengan keadaannya yang cacat fisik. Dia tidak terima dengan takdir yang menimpanya, oleh karena itu dia selalu berputus asa.
- Cinta Rose kepada Jack sangat tulus, tetapi Jack tidak menghargainya sama sekali.
- Rose tidak terima dengan wajahnya yang jelek, sedangkan wajah Mamanya cantik.

Alur :

Campuran ( maju - mundur )
Maju : Mengisahkan kepribadian Rose mulai awal sampai akhir, hingga dia jatuh cinta pada Jack, tapi cinta Rose ditolak oleh Jack.
Mundur : Dengan ditolaknya cinta Rose oleh Jack, akhirnya Rose menceritakan kejadian itu pada Mamanya, hingga akhirnya Mamanya menceritakan kejadian masa lalu yang begitu pahit dan selama ini dirahasiakan.
IDENTITAS PENULIS

NAMA : ERMIN SUSILO WATI

KELAS : IX IPA 3

NIS : 13049

ALAMAT : DS. / KEC. MUNJUNGAN TRENGGALEK JAWA TIMUR

CITA – CITA : MENJADI BIDAN

MOTTO : SISWA YANG BAIK ADALAH SISWA YANG TIDAK TAKUT JATUH, ASAL BISA BANGKIT LAGI ITULAH YANG TERBAIK.

dendit'HOTs

KECOA




“Abdul, sudah berapa kali sih Emak bilang, kamarnya dibersihin, diberesin! Jorok banget sih. Kamar kok kayak kandang ayam gini. Entar ada kecoanya baru tahu rasa!“
Sudah hampir dua jam ini Emak ngomel sambil ngeberesin kamar Abdul. Kamar itu sepertinya nyaris tidak layak disebut kamar. Buku-buku berserakan, bahkan sampai ada yang di kolong tempat tidur. Seprei sudah nggak menutupi kasur lagi. Di lantai kamar ada saja sisa-sisa hapusan ditemukan. Lemari baju pun berantakan. Disana-sini banyak layangan dan mobil-mobilan yang nggak disimpan pada tempatnya. Sampah jajanan juga menumpuk di belakang pintu. Pokoknya asli tidak enak dilihat! Padahal sudah nyaris setiap hari Emak ngeberesin kamar Abdul, tapi selalu saja kerapiannya tidak bisa bertahan lama.
“Huh, kecoa saja diributin,” selalu begitu jawaban Abdul kalau Emak mengingatkan. Dan jawabannya itu tentu saja membuat Emak semakin ngomel besar.
Malam harinya setelah mengerjakan PR Matematika, Abdul tertidur di lantai kamarnya yang mulai berantakan lagi. Mungkin karena kelelahan. Kelelahan menghadapi PR Matematikanya dan kelelahan menghadapi omelan Emak yang membosankan.
***
“Assalamu’alaikum,“ seru Abdul sepulang dari sekolah siang itu. Tidak ada jawaban.
“Emak kemana ya, biasanya sebelum Abdul pulang sekolah Emak sudah pulang lebih dulu dari kantor. Ah, mungkin Emak dapat tugas ngeliput dadakan kali ya. Emak kan reporter”, batin Abdul. Untung dia membawa kunci duplikat rumah, sehingga dia bisa masuk.
“Lapar, makan ah!” Tujuan pertama Abdul setelah masuk rumah adalah meja makan. Padahal dia belum berganti pakaian. Emak juga sering kali mengomeli kebiasaan Abdul yang satu ini. Tapi dasar Abdul bandel semakin sering Emak mengomel, semakin sering pula dia melakukannya.
Setelah selesai makan Abdul menuju pintu kulkas dan meminum jus alpukat yang ada. Lalu dia mencomot kue kering di lemari makan Emak hingga ludes. Setelah merasa kenyang baru Abdul menuju kamarnya. Dibiarkannya saja piring dan gelas bekas makannya tadi berserakan di dapur.
Tapi saat baru saja membuka pintu kamarnya Abdul terkaget-kaget. Di dalam kamarnya ada sesosok monster besar seperti serangga dengan antena panjang dan bau yang tidak enak. Menjijikkan. Hah, apa itu? Abdul menjerit ketakutan, namun tetap tidak bergeming di tempatnya.
“Hei, kamu teman baikku. Aku senang berjumpa denganmu. Mumpung Emak dan Bapak kamu tidak ada, ayo kita bersenang-senang. Hahaha,” kata monster itu kepada Abdul dengan suara menggelegar.
“Ss..si..siapa..siapa kamu?!” Abdul memberanikan dirinya untuk bertanya pada monster itu.
“Hahaha, kenapa kamu takut seperti itu, Sobat? Bukankah aku teman baikmu? Sahabat karibmu? Hahaha, tapi tidak apa-apa. Mungkin kamu lupa padaku karena wujudku sekarang lebih besar dari yang biasa kamu lihat. Aku adalah kecoa yang tinggal di kamarmu. Sekarang tubuhku membesar karena segala kebutuhan hidupku terpenuhi di sini,” jawab monster yang ternyata kecoa raksasa itu.
“Ke..ke..kenapa kamu ada di sini?” Abdul bertanya lagi.
“Hahaha…hahaha…hahaha…” Sang monster justru tertawa lebih keras, membuat Abdul makin ketakutan.
“Kamu benar-benar lucu teman. Kamu bertanya kenapa aku ada di kamarmu? Hah, bukankah kamu yang mengundangku ke sini. Apa kamu lupa sobat? Hahaha.”
“A…a…aku…bukan sahabatmu. Aku tidak pernah memintamu ke sini.”
“Apa? Kamu tidak mengenalku? Bukankah kamu yang membiarkan kamarmu selalu dalam keadaan tidak rapi, sehingga aku bisa betah tinggal di sini. Kamu yang membiarkan remah-remah makanan berserakan dimana-mana, sehingga aku dapat hidup terjamin disini. Hah, bukankah jelas itu membuktikan kalau kamu adalah sahabatku!” Sang monster mulai tersinggung dengan ucapan Abdul yang tidak mau mengakuinya sebagai sahabat.
“Aku tidak pernah kenal kamu. Pergi kamu dari kamar dan rumahku! Pergi!” teriak Abdul setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya.
“Apa kamu bilang? Kamu memperlakukanku seolah-olah aku tamu yang tak diundang, hah?!” Tiba-tiba sang monster kecoa menjadi sangat marah. Dia tidak terima dan sangat tersinggung karena Abdul tidak mengakui sang kecoa sebagai teman. Padahal Abdul telah mengundang kecoa itu datang ke tempatnya.
Perlahan tapi pasti sang monster mulai merengsek maju ke depan, untuk mendekati Abdul yang masih berada di depan pintu kamarnya. Dia hendak menyerang Abdul dengan antena panjangnya dan wajahnya yang menyeramkan. Abdul kembali ketakutan. Saking takutnya dia tidak sanggup untuk bergerak lari. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya.
“Ti..tidak. Tidak! Aku tidak mau berteman denganmu. Tidak. Tidaaaaaaaaaakk!” Abdul menjerit sekeras-kerasnya sambil menutup mata. Dan tiba-tiba datanglah Emak.
***
“Abdul.. Abdul.. bangun. Bangun Abdul. Kamu kenapa teriak-teriak kayak gitu? Tidur di lantai lagi. Hei, bangun Sayang.. bangun!“ Emak berusaha membangunkan Abdul. Di sampingnya juga telah berdiri Bapaknya.. Abdul pun terbangun.
Melihat wajah Emak dan Bapak di dalam kamarnya, Abdul tersadar bahwa yang dialaminya tadi hanya mimpi. Mimpi buruk yang benar-benar seperti nyata. Bahkan ketakutan yang di rasakannya tadi masih terasa. Tiba-tiba Abdul menangis dan bangkit memeluk Emak.
“Emak, maafin Abdul Mak. Abdul nggak akan ngeberantakin kamar lagi. Abdul janji mau rajin ngeberesin kamar. Abdul nggak mau jadi teman kecoa dan binatang menjijikan yang lain, Mak,“ janji Abdul pada Emak.
Walaupun Emak dan Bapak bingung, tapi tentu saja mereka senang mendengar janji Abdul itu. Terutama Emak. Berarti Emak nggak perlu ngomel-ngomel lagi. Emak berharap semoga saja Abdul mematuhi janjinya sendiri.
Di tempat lain kecoa sadar bahwa keberadaannya di rumah itu tidak akan lama lagi.


Nama : Tiara R. Sahara
Kelas : XI IPA3
NoAbs : 32

dendit'HOTs

TELUR AJAIB

TELUR AJAIB

Robi ingin sekali membeli handphone terbaru seperti milik teman-temannya. Namun ketika ia meminta dibelikan handphone itu, ibunya malah membelikannya sebutir telur ayam.
”Ini untuk apa, Bu?” tanya Robi hampir tertawa.
”Ibu salah dengar ya?” lanjutnya.
“Tidak. Ibu tidak salah dengar. Itu telur ajaib. Telur itu mempunyai sebuah rahasia. Kalau kamu bisa menjaganya selama dua minggu, Ibu akan membelikan handphone seperti yang kamu minta.” jawab ibu sambil mengeluarkan belanjaannya.
Robi memperhatikan telur yang ada di tangannya. Hanya sebuah telur ayam biasa yang digoreng untuk sarapan. Tapi, kenapa Ibu berkata ini telur ajaib? Robi menjadi semakin bingung.
”Bagaimana? Kamu mau menjaganya selama dua minggu atau sama sekali tidak dibelikan handphone itu?” tawar Ibu.
”Tapi Bu,ajaibnya di mana? Apa telur ini bisa menetaskan handphone seperti yang Robi inginkan?” tanya Robi penasaran.
”Ajaibnya baru ketahuan kalau kamu mau menjaganya. Kamu berani menerima tantangan?” ujar Ibu lagi.
“Beres Bu. Tapi janji ya, hanya dua minggu.” Pinta Robi.
Robi pikir menjaga telur itu mudah sekali. Tapi nyatanya? Baru satu jam saja anak kelas satu SMP itu sudah kewalahan. Ceritanya begini. Telur itu ia letakkan di atas meja belajar. Ia lupa kalau telur itu sewaktu-waktu bisa menggelinding. Robi membuka laci meja belajarnya untuk mencari kunci sepedanya. Begitu ketemu, ia langsung menutupnya dengan keras. Akibatnya telur itu menggelinding. Namun, dengan perasaan panik, Robi meloncat dan meraih telur itu. Akhirnya telur itu berhasil diselamatkan. Ia langsung menciumi telur itu.
Hari itu juga Robi menaruh telur ajaib itu di gelas plastik air mineral yang sudah diberi kapas. Biar aman kalau dibawa kemana-mana.
Akan tetapi, pada hari ke dua, ketika Robi buru-buru berangkat sekolah karena kesiangan, untuk kedua kalinya telur itu hampir pevah. Saat Robi keluar dari halaman rumah, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul penjual sayur keliling. Robi mengerem sepedanya dengan keras. Telur yang belum sempat dimasukkan ke dalam tas terlepas dari tangannya dan terjatuh. Beruntung telur itu tidak pecah. Sekali lagi dia mengucap syukur dan menciumi telur itu. Penjual sayur keliling pun sampai keheranan melihat tingkah Robi. Akhirnya telur itu Robi masukkan ke dalam tasnya. Kemidian ia mengayun sepedanya dengan pelan. Sejak saat itu Robi menjadi lebih hati-hati lagi menjaga telur ajaib dari ibunya.
Memang awalnya sangat menyiksa. Biasanya pulang sekolah ia langsung bermain dengan teman-temannya, namun kini tidak. Biasanya ia tidak betah kalau harus berlama-lama di dalam kamar, tapi kini ia harus betah. Dan tanpa terasa dua minggu sudah Robi menjaga telur ajaib itu.
Pulang sekolah Robi menagih janji pada ibunya. Tapi ternyata ibunya tidak ada. Pembantu di rumah Robi menyampaikan pesan kalau ibu Robi ke rumah sakit menengok suami tante Rini yang kecelakaan. Menjelang sore, ibu Robi baru pulang. Robi menyambutnya dengan senang.
“Bagaimana keadaan suami tante Rini, Bu?” tanya Robi.
”Dia masuk ruang ICU. Keadaannya parah.” Cerita ibu.
“Terus?”
“Tante Rini butuh uang banyak,” sejenak ibu menarik napas.
“Uang yang sudah ibu siapkan untuk membeli handphone ibu pinjamkan ke tante Rini.” lanjutnya.
Robi kaget sekali. Ia bingung menghadapi teman-temannya. Ia takut teman-temannya menertawakannya.
”Kamu tidak marah kan Rob?” tanya ibu sambil mengelus kepala Robi.
Untuk beberapa lama Robi terdiam. Namun perlahan-lahan ia menganggukkan kepalanya. Ibu tersenyum lalu memeluk Robi.
”Kalau tante Rini sudah mengembalikan uang itu, ibu janji akan langsung membelikannya untukmu.” kata ibu.
Ting! Tong! Tiba-tiba bel berbunyi. Robi buru-buru membukakan pintu.ternyata anak tante Rini.
“Ada apa Aldi?” tanya ibu pada Ardi.
“Ini tante, uang tante yang tadi dipinjamlan ke ibu. Kata ibu, ibu tidak jadi pinjam karena orang yang menabrak ayah mau membiayai pengobatan ayah.” Jelas Ardi sambil menyerahkan amplop warna coklat.
Robi hampir tak percaya. Ia melonjak kegirangan. Inikah keajaiban telur yang dimaksudkan ibunya?
“Bagaimana Rob, jadi beli handphone? Tanya ibu setelah Ardi pulang.
Robi terdiam lalu pergi ke kamarnya. Ia mengambil telur itu lalu diperhatikannya dalam-dalam. Tidak ada yang istimewa. Tapi, ia merasa harus berterima kasih. Karena telur itu telah memberikan pelajaran paling berharga untuk Robi, yaitu kesabaran.
“Bagaimana Rob?” tanya ibu sekali lagi.
Pelan-pelan Robi menggelengkan kepala.
”Tidak jadi, Bu. Robi pikir uang itu sebaiknya dipakai untuk hal yang lebih berguna.” ujarnya mengharukan.
Ibunya memeluknya.

..........The End..........
Tokoh dalam cerpen ada 4, yaitu :
Robi
Ibu Robi
Aldi
Tante Rini

· Tokoh yang diteladani
Robi
Ia mau sabar dalam menjaga amanat ibunya. Meskipun awalnya ia melakukan hal itu karena ingin minta upah, namun akhirnya ia berpikir dewasa dan melupakan keinginannya itu.
Ibu Robi
Ia mementingkan orang kepentingan orang lain dahulu daripada kepentingannya sendiri.
· Alur
Maju

· Konflik yang terjadi
Konflik Batin
Bobi sangat kecewa mendengar penjelasan ibunya bahwa uang yang sudah disiapkan untuk membeli handphone diberikan pada Tante Rini untuk biaya berobat suaminya.

dendit'HOTs

RAMALAN FUDUS ORORPUS



RAMALAN FUDUS ORORPUS

Perempuan tua aneh itu datang tiba-tiba pada suatu siang dan mengacaukan hidup Deryn. Dia mengetuk pintu, dan adik Deryn, Rosaline, mengijinkannya masuk bahkan memberinya segalas air karena kasihan. Dia mengucapkan terima kasih dengan suaranya yang serak, dan saat itu Deryn menyadari keanehan pada perempuan tua itu. Tangan kiri perenpuan itu menenteng sebuah bola kaca bening. Diameternya 10 cm dan sekarang bola itu bergetar dan berubah menjadi berkabut.
“Kau ingin meramal kristal sakti kecilku?” kata perempuan tua itu.
”Nenek bisa meramal? Ayo ramal kami Nek.” Seru Rosaline.
Deryn terus memperhatikan bola kristal itu yang sekarang berubah menjadi biru.
“Kamu......!!”
Tiba-tiba perempuan tua itu berteriak. Telunjuk keriputnya teracung tepat ke arah Anne, kakak Deryn.
“Bintang bagus. Bintang bagus. Tahun ini peruntunganmu baik..... Puncak hari yang kau nanti-nanti akan tiba di pertengahan Juli. Kau akan mendapatkan kado dari orang yang kau sayang.” katanya.
Kini wanita tua itu mengacungkan tangannya tepat ke arah Deryn. Dia berkata,
”Naik, turun, Lurus, terputus.... Oh, tidak! Tidak mungkin! Fudus Ororor! Kau dilahirkan tanpa garis jodoh, nak. Kau ditakdirkan untuk menjadi perawan tua!”
Dengan perasaan masih gamang, Deryn memperhatikan telunjuk perempuan itu beralih ke arah Rosaline.
”Bintang cemerlang. Otak cemerlang. Si jenius ini akan menjadi orang dan terkenal suatu hari nanti!” kata wanita itu.
Dan setelah ia meramal kami bertiga, dia berbalik, terkekeh, dan melangkah pergi.
Malamnya saat Deryn duduk termenung di teras depan, Rosaline datang.
“Fudus Ororpus adalah satu-satunya ramalan paling tepat di dunia. Peramalnya keturunan langsung Dewa Nasib. Mereka reinkarnasi Sang Dewa, dan disebut Ororor. Kalau Ororor yang tadi, generasi ke 37, berasal dari pedalaman Irian Jaya, Ororor pertama yang berasal dari Indonesia.” Cerita Rosalin tanpa rasa bersalah.
Tapi Deryn tidak menanggapi cerita Rosaline dan pergi meninggalkannya.
Di sekolah, Deryn menceritakan semua kejadian yang terjadi di rumahnya kemarin siang pada Mica sahabatnya. Saat mereka sedang asyik ngobrol, lewatlah Arden, cowok paling keren di sekolahnya, yang sangat dia sukai sejak Arden suka mencuri-curi pandang padanya saat pulang sekolah bersama. Tapi kali ini Deryn harus tabah menghadapi masalah besar yang berhubungan dengan hatinya. Karena sewaktu pulang sekolah, Deryn tidak sengaja melihat Arden menyatakan cinta pada Mica. Hati Deryn terasa hancur berkeping-keping, karena ketulusan hati Deryn ditambah penjelasan dari Mica dan Arden akhirnya Deryn mengerti dan merelakan cinta matinya untuk Mica.
Ketika tiba hari ulang tahun kak Anne, Rosaline datang membawa pacarnya. Dia memperkenalkan Faren pada Deryn dan kak Anne.
”Faren Alexsandro.....” faren memperkenalkan diri.
”Deryn.” kata Deryn terbata-bata.
Ternyata Faren seumuran dengan Deryn. Setiap kali ngobrol dengan Faren, yang dibicarakan pasti soal pelajaran. Pesta kak Anne malam itu meriah sekali. Sebelum Faren pulang, Rosaline meminta Deryn serta kak Anne untuk foto bersama dengan Faren.
”Untuk Deryn Santalia.” Deryn membelalak hampir tak percaya ketika dia melihat sekuntum bunga mawar beserta surat untuknya yang dia temukan di depan pintu rumahnya.
”Siapa F.A yang kirim bunga ini ke aku? Apa aku punya teman yang inisialnya F.A?”
Belum sempat Deryn mengingat-ingat, Rosaline dan Faren tiba-tiba datang. Rosaline mengerling menggoda.
“Dari siapa nih?”
“Nggak tau, nggak ada namanya. Cuma ada inisialnya.” Sahut Deryn.
“Ouu…. Nah, aku tinggal dulu ya. Tolong temani faren ya kak. Aku mau ke perpustakaan!” pinta Rosaline.
Tadinya memang Deryn agak malu ketika dia harus menemani Faren sendirian, tetapi Faren berhasil mencairkan suasana. Dia membantu Deryn untuk mengerjakan PR Deryn.
Hampir dua bulan terakhir ini bunga dari pengirim misterius ini terus datang, begitu juga dengan Faren, nongkrong di rumah Deryn dengan alasan yang sama, menunggu Rosaline pulang dari perpustakaan. Karena hanya Deryn yang ada di rumah, Deryn selalu kena getahnya, dan selalu diminta tolong untuk menemani Faren. Deryn sebenarnya tidak keberatan, apa lagi setiap ada faren PR-nya langsung beres. Tapi lama-lama Deryn merasa tidak enak juga.
Suatu saat ketika Deryn belajar bersama dengan Mica, tidak sengaja Mica membandingkan tulisan Faren di buku matematika Deryn dengan tulisan surat cinta pengirim misterius itu. Deryn pun juga ikut-ikutan membandingkan kedua tulisan itu. Dan ternyata tulisan surat itu sama persis dengan tulisan Faren, apalagi nama faren cocok denagn inisial nama pengirim misterius.
”F.A, Faren Alexsandro,” gumam Deryn sambil mengingat-ingat nama faren.
Besuknya, saat Faren menunggu Rosaline datang dari perpustakaan, Deryn datang menemui Faren dan langsung menampar Faren.
“Kamu ini kenapa sih Ryn, datang-datang nampar?” tanya Faren sambil mengelus pipi.
“Tanya kenapa? Kamu lihat tulisan kamu itu sama persis kayak tulisan di surat ini!” jawab Deryn.
Faren mencoba menjelaskan apa yang terjadi bahwa yang selama ini mengirim surat padanya adalah saudara kembar Faren, yaitu Frey Alexsandro. Deryn mencoba percaya dengan kata-kata faren, asalkan faren menyuruh Frey untuk datang menemuinya di cafe depan sekolah Dery.
Bel pulang sekolah berbunyi, Deryn segera beranjak dari kelas dan pergi menuju cafe depan sekolahnya. Tidak lama kemudian Frey datang menemui Deryn. Deryn tercengang melihat wajah Frey yang sama persis dengan Faren. Setelah beberapa lama lama mereka berdua berbicara, tiba-tiba Frey mengutarakan perasaannya.
“Ryn, gimana, kamu mau kan jadi pacar aku?”
Deryn terdiam sejenak.
”Tapi kita kan baru saja kenal, nggak mungkin aku terima kamu .” kata Deryn.
”Ja..... Jadi kamu nolak aku?” Frey menatap tidak percaya.
Deryn mengangguk mantap.
”Maaf Frey, aku nggak bisa... Nggak bisa nolak kamu. Aku mau jadi pacar kamu.”
Wajah Frey yang tadinya berkabut kini berubah menjadi cerah.
Berbulan-bulan setelah itu, Deryn menjalani hidupnya dengan bahagia. Persahabatannya dengan Arden berjalan mulus, dan hubungannya dengan Frey lebih mulus lagi. Siang itu panas. Deryn dan kedua saudaranya serta Mica sedang bersantai di ruang tamu ketika tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Kami semua terpana, karena nenek tua yang meramal Deryn kembali lagi.
”Ramalan nenek salah.” kata Deryn.
”Ramalan sang Dewa tidak pernah salah kecuali bila Sang Dewa berkenan mengubah nasibmu.” kata perempuan tua itu.
”Memang kenapa Sang Dewa menghendaki perubahan nasibku?” kepala Deryn terasa berputar-putar.
”Karena kau telah berbuat kebaikan, Nak, sehingga kau telah membuat Sang Dewa berhutang padamu. Kau merelakan orang yang paling kau sayangi demi kebahagiaan sahabatmu dengan tulus. Itu sikap mulia yang tidak semua orang mampu melakukannya.” jelas peramal itu.
”Arden?” Deryn tercekat.
”Siapapun namanya.sekarang kalian sudah mendengar rahasia Fudus Ororpus. Langit selalu adil terhadap semua makhluk yang berlindung di bawahnya. Apa yang ditabur seseorang, itu juga yang akan dituainya. Saat kau berbuat kebaikan kepada orang lain, sebenarnya kau berbuat kebaikan untuk dirimu sendiri.” jawab nenek tua itu.
Kemudia dia berbalik, terkekeh, dan pergi......

...THE END...

Tokoh
Deryn
Anne
Rosaline
Faren
Frey
Mica
Arden
Peramal

Tokoh yang diteladani
Deryn
Karena Deryn telah merelakan orang yang yang paling dia sayang demi kebahagiaan sahabatnya.

Alur
Maju

Konflik
Konflik batin
Deryn sangat ketakutan sekali saat dia diramal menjadi perawan tua.
Konflik dengan tokoh lain
Perseteruan Deryn dengan Mica karena Arden yang selama ini dia cintai ternyata memilih sahabatnya, yaitu Mica.

dendit'HOTs

USWATUN HASANAH




Tepat pukul 00.00 Uswatun keluar dari klab malam itu.Itu bukan hal yang tidak wajar bagi Uswatun.Hampir Setiap malam dia mengisi acara sebagai penyanyi dangdut.
    Setelah berjalan lebih dari 2 kilo meter,akhirnya Uswatun sampai juga di rumahnya yang sederhana.
    “Hei,Uswatun mana bayaranmu hari ini.”,ucap seorang lelaki tua di depan pintu rumahnya.
    “Maaf Pak hari ini Uswatun hanya mendapat separuh dari gaji Uswatun karena,…”,jawab Uswatun.
    “Dasar  anak kurang ajar”.Kemudian lelaki itu dengan luwesnya menampar wajah Uswatun.Tamparan dan cacian adalah makanan sehari harinya.Sejak ibunya meninggal 2 tahun lalu,ayahnya mengubah provesinya sebagai pemabuk.Akibatnya dia di PHK dari tempatnya bekerja.
    Kala Uswatun pulang dari kelabnya,dia merasa ada seseorang yang membuntutinya dari belakang.Tiba tiba dua orang preman menhentikan langkahnya.Dan mereka berusaha menculik Uswatun.
    “Tolong tolong,maksud mas apa menculik saya?”.
    “Diam kamu!”,bentak preman itu.
    “Lepaskan wanita itu”,sahut seorang pemuda berkopyah dan berbaju koko.Tiba tiba pemuda itu menghajar kedua preman itu sampai pingsan.
    “Kamu tidak apa-apa?”  tanya pemuda itu.
    “Ya, saya baik-baik saja.” Sahut Uswatun.
    “Apa yang kamu lakukan tengah malam begini?”
    “Emm… Saya baru saja bekerja di klub itu. Baiklah saya harus pulang. Terima kasih mas, permisi.”
    Keesokan harinya Uswatun bergegas pulang selesai bekerja dan ia mulai ketakutan. Dan tiba-tiba….. Brukk!!!! Tak sengaja ia menabrak seseorang di depannya.
    “Maaf, maaf, saya tidak sengaja.” ucap Uswatun.
    “Kamu??” ucap pemuda itu.
    “Kita bertemu lagi ya, maaf mas saya harus permisi pulang.”
    “Tunggu, maaf mbk, siapa nama kamu??”
    Kemudian Uswatun menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap pemuda itu.

“Nama saya Uswatun, mas. Mas sendiri siapa?”
    “Saya Akbar. Senang berkenalan dengan kamu.”
    Sejak malam itu, Uswatun dan Akbar menjadi akrab dan sering bertemu.
    “Us, tunggu!” teriak pemuda memanggil Uswatun.
    “Akbar…. Ada apa?” sahut Uswatun.
    “Aku antarkan pulang ya… Tidak baik pulang selarut ini”
    Di perjalanan pulang Uswatun dan Akbar mulai saling menanyakan tentang diri mereka masing-masing.
    “Us, kenapa kamu mau bekerja di klub itu?” Tanya Akbar.
    “Sebenarnya aku tak ingin bekerja di klub itu Bar, tapi keadaan memaksaku. Sejak ibuku meninggal, ayah frustasi dan dipecat dari pekerjaannya. Dan sekarang pekerjaannya hanya mabuk-mabukan. Makanya aku bekerja di klub itu. Terus kenapa kamu tiap malam berada di dekat klub itu?” jawab Uswatun.
    “Ayahku menyuruhku menjaga masjid miliknya di seberang sana itu.”
    “Jadi masjid itu milikmu?”
“Bukan, tapi milik ayahku. Ayahku seorang ustadz, dan ia sering memenuhi undangan sebagai penceramah. Tentu beliau tidak bias terus-terusan menjaga masjid ini.”
“Bar, apakah kamu tidak malu berteman denganku? Pasti ayahmu akan melarangmu berteman denganku.”
“Ayahku tidak melarangku bergaul dengan orang baik, dan aku tahu kamu orang baik. Aku kagum denganmu Us.”
Kata-kata Akbar itu seolah tak pernah hilang dari pikiran Uswatun, dan sebenarnya dia pun mulai menyukai Akbar.
“Pak, apa boleh aku keluar dari klub ini?”
“Diam kamu,lalu aakan kau beri makan apa bapakmu ini?”
“Aku malu pak.Aku perempuan tapi berkeliaran malam malam.Bukannya bapak masih bisa bekerja.Bapak pandai melukis dan main alat musi kan?”.
“Diam kamu anak sialan.Pergi dari rumah ini jika kau mau keluar dari klab itu!”.
Keesokan harinya Uswatun menceritakan kejadian itu kepada Akbar,saat Akbar mengantarnya pulang.
Uswatun terkaget saat dia sampai di depan rumahnya.
“Siapa dia Us?”,tanya bapaknya
“Dia temanku Pak.Namanya Akbar.Dia anak seoran ustadz pemilik masjid di dekat klab tempatku bekerja.”.
“O jadi dia yang membuatmu berniat keluar dari klab itu?Apa kamu menyukainya.Dan kamu anak muda.Uswatun tidak akan pernah keluar dari klab itu”.
Sejak saat itu Uswatun dan Akbar  jarang bertemu karena Uswatun menghindar dari Akbar.Dan ternyata Uswatun terbaring sakit.
“Pak,boleh aku bicara dengan bapak?”
“Bicara apa Us?”.
“Bapak apa salah jika anakmu ini menyukai seseorang ang baik?Apa karena aku penyayi klab tidak pantas untuk mendapatkan  kebahagiaan.Bapak,saa ingin seperti remaja remaja lain.Bukankah,setiap anak gadis seharusnya berad di rumah saat tengah malam.Saya ingin hidup wajar seperti mereka.”.
Seketika bapak Uswatun terdiam dan memandang wajah anak gadisnya itu.Tanpa sepatah katapun terucap bibirnya,diapun berlalu meninggalkan Uswatun.
Hari ini Uswatun terlihat lebih baikan,sehingga dia berniat untuk kembali bekerja.Dia bergegas mengambil tas dan segera kelua dari rumahnya,namun seseorang dari belakang memanggilnya.
“Uswatun,Kamu mau kemana nak?”.
“Aku ingin kembali bekerja Pak.Akan makan dengan apa kita nanti kalau saya tidak bekerja.”.
“Tidak Uswatun.Saya tidak rela aak gadisku satu satumya harus kerja malam banting tulang sementara aku hanya mabu mabukan.Maafkan bapak uswatun.”.
Seketika Uswatun terperangah mwndengar ucapan bapaknya.Dia seolah tak percaya mendengar kata kata emas itu.
“Mulai sekarang bapak akan bekerja.Bapak akan mulai melukis dan bapak akan mendampingimu menyanyi,tetapi tidak di klab itu.kita dapat mengisi acara di pernikahan atau acara lainnya”.
Sejak saat itu Uswatun tidak lagi bekerja di klab malam itu.Bahkan dia sering mengisi acara di sebuah pengajian yang ustadznya adalah ayah dari pujaan hatinya.



dendit'HOTs